Rusia Siapkan Sistem Penghancur Dolar AS, Anggota BRICS Bisa Hemat Rp234 Trilyun

JAKARTA – Rusia mengusulkan pembaharuan pada pembayaran lintas batas yang dimaksud dijalankan pada antara negara-negara BRICS yang dimaksud bertujuan untuk menghindari sistem keuangan global, sebab negara yang dimaksud dikenai sanksi berat ini berupaya untuk melindungi ekonominya sendiri.
Alternatif-alternatif yang dimaksud termasuk mengembangkan jaringan bank-bank komersil yang dapat melakukan transaksi-transaksi semacam itu pada mata uang lokal juga juga memulai pembangunan hubungan secara langsung antara bank-bank sentral, menurut sebuah laporan yang dimaksud disiapkan oleh Kementerian Keuangan Rusia, Bank of Russia, lalu ahli konsultasi yang dimaksud berbasis di area Moskow, Yakov & Partners.
“Sistem multicurrency ini perlu memagari para pesertanya dari tekanan eksternal seperti sanksi ekstrateritorial,” kata laporan yang dimaksud dilansir dari Bloomberg, Mulai Pekan (14/10/2024).
Laporan yang disebutkan juga menyatakan bahwa kepentingan Amerika Serikat tak selalu selaras dengan kepentingan partisipan lain dari jaringan keuangan global. Rencana ini juga mencakup pembentukan pusat-pusat perdagangan bersatu untuk komoditas seperti minyak, gas alam, biji-bijian, serta emas.
AS dan juga sekutunya telah terjadi menjatuhkan sanksi terhadap Rusia setelahnya Presiden Vladimir Presiden Rusia memerintahkan invasi skala penuh ke negeri Ukraina pada Februari 2022. Mereka membekukan aset luar negeri Rusia kemudian mengeluarkan pemberi pinjaman utama Rusia dari sistem instruksi keuangan SWIFT. Sebagai tanggapan, Rusia mencoba menghurangi ketergantungannya pada dolar.
Namun, negara-negara BRICS lain yang tiada menghadapi komplikasi yang tersebut sejenis dari sanksi terus memprioritaskan akses ke sistem keuangan berbasis dolar. Secara global, 58% pembayaran internasional tidaklah termasuk, yang digunakan berada di area kawasan euro, melibatkan dolar. Sementara, dolar digunakan pada 54% faktur perdagangan luar negeri pada 2022, menurut Brookings Institution.
Laporan ini diterbitkan ketika Kepala Negara Rusia bersiap untuk menjadi tuan rumah bagi para pemimpin untuk rapat tahunan BRICS, di dalam Kazan, Rusia pada 22-24 Oktober. Tim BRICS sekarang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, serta Afrika Selatan diperluas pada bulan Januari dengan menyertakan Iran, Uni Emirat Arab, Ethiopia, serta Mesir.
Di antara proposal yang diajukan, Rusia menyodorkan pengaplikasian teknologi buku besar terdistribusi (DLT) atau jaringan multinasional baru untuk memungkinkan penyelesaian dengan token. Adapun keuntungan utama dari penyelenggaraan model penyelesaian DLT adalah penghapusan risiko kredit yang dimaksud menyertai pengaturan perbankan konvensional, kata laporan itu.
“DLT juga dapat menghurangi waktu pemrosesan lalu biaya akibat entitas koresponden serta pemeriksaan kepatuhan tak akan ada, sehingga dapat menghemat negara-negara BRICS sebanyak USD15 miliar per tahun jikalau setengah dari semua pemindahan lintas batas menggunakan kegiatan semacam itu,” kata para penulis laporan tersebut.






