Jadi Sasaran Kritik, Unilever Jual Bisnisnya pada Rusia

JAKARTA – Raksasa barang konsumen Inggris Unilever telah terjadi menyelesaikan proses keluarnya bidang usaha mereka itu dari Rusia. Grup yang dimaksud sebelumnya terus mendapat kritik keras dikarenakan tetap memperlihatkan berada di tempat Rusia, sementara perusahaan Barat melakukan eksodus besar-besaran pasca mulainya konflik Rusia-Ukraina pada tahun 2022 lalu dan juga dimulainya sanksi Barat.
Dalam pernyataannya, Unilever memasarkan semua bisnisnya dalam Rusia terhadap Arnest Group, produsen parfum, kosmetik, dan juga hasil rumah tangga di negeri. Bisnis Unilever dalam Belarusia juga termasuk di pelanggan tersebut.
“Penyelesaian perdagangan yang disebutkan mengakhiri penampilan Unilever Rusia pada negara tersebut,” kata direktur utama Unilever Hein Schumacher seperti dilansir Russia Today, Hari Sabtu (12/10/2024).
Perusahaan bukan mengungkapkan detail kesepakatan yang mana dibuat terkait pelanggan tersebut. Namun, menurut aturan divestasi yang dimaksud diperkenalkan oleh pemerintah Rusia tahun lalu, perusahaan yang tersebut mengundurkan diri dari dari Rusia perlu memperoleh izin pemerintah untuk perdagangan serta diharuskan jual aset merek dengan diskon 50% juga membayar pajak meninggalkan sebesar 10-15%.
Financial Times (FT) melaporkan bahwa aset perusahaan tersebut, diperkirakan bernilai 600 jt euro atau sekitar USD657 jt dan juga dijual seharga 520 jt euro atau sekitar USD569 juta. Operasional Unilever pada Rusia mencakup empat pabrik juga menyumbang sekitar 1% dari hasil penjualan kemudian laba bersih grup pada tahun 2023.
Arnest Group, yang dimaksud dimiliki oleh industrialis Rusia Aleksey Sagal, sebelumnya telah terjadi mengakuisisi aset lokal pembuat kaleng Negeri Paman Sam Ball Corp, pembuat bir Belanda Heineken, juga grup kosmetik Swedia Oriflame.
Unilever memproduksi merek cairan pembersih Fairy lalu Domestos, sabun Dove, es krim Ben & Jerry’s, dan juga sekitar 400 merek makanan serta material kimia rumah tangga lainnya. Grup yang disebutkan menghentikan ekspor kemudian impor ke kemudian dari Rusia pada Maret 2022, kemudian menghentikan investasi, periklanan, dan juga proyek lebih lanjut lanjut dalam negara tersebut.
Namun, perusahaan itu terus memproduksi juga memasarkan apa yang mana digambarkannya sebagai “makanan vital serta komoditas kebersihan” pada Rusia, sebuah kebijakan yang mana membuatnya dicap sebagai “sponsor peperangan internasional” oleh pemerintah negara Ukraina pada tahun 2023.
Unilever sebelumnya tidaklah memberikan indikasi bahwa mereka itu berencana untuk pergi dari dari pangsa Rusia. Pada bulan Juli 2023, perusahaan yang dimaksud menyatakan bahwa mereka memilih untuk tiada menarik diri juga mengamati operasinya dinasionalisasi, atau mengirimkan divisi Rusia-nya. Laporan media mengklaim pada bulan September bahwa raksasa yang digunakan berbasis di tempat Inggris itu telah terjadi memproduksi inovasi haluan yang dimaksud besar kemudian memutuskan untuk mengedarkan aset-asetnya di dalam Rusia.
Reuters memperkirakan pada bulan Maret bahwa keluarnya perusahaan dari Rusia telah dilakukan merugikan perusahaan asing lebih tinggi dari USD107 miliar atau sekira Rp1.605 triliun (kurs Rp15.000/USD) pada bentuk penurunan nilai lalu kehilangan pendapatan sejak tahun 2022.






