Ancaman Keselamatan Global dari Penempatan Pasukan Korut pada Perang Rusia-Ukraina

Park Yong-han
Senior Korea Institute for Defense Analysis (KIDA) Fellow
KOREA UTARA telah terjadi mengancam tatanan keamanan di tempat Asia Timur Laut dengan pengembangan senjata nuklir ilegal selama beberapa dekade. Korea Utara juga memasok senjata ke Rusia, yang mana melakukan invasi Ukraina, juga baru-baru ini mulai terlibat secara langsung pada konflik dengan mengirimkan pasukan khusus.
Penyimpangan ini tak hanya saja memperburuk ancaman di dalam Eropa tetapi juga dapat menyebabkan meningkatnya ketegangan di tempat Asia Timur Laut. Ada berbagai alasan lalu keinginan bagi Asia Timur Laut juga komunitas internasional yang mana berharap menjaga perdamaian untuk menghentikan penempatan pasukan Korea Utara lalu solidaritas ilegal antara Korea Utara dan juga Rusia.
Pada awal Oktober lalu, pasukan khusus Korea Utara mulai bergerak untuk membantu Rusia berpartisipasi di pertempuran di tempat Ukraina. Pada 18 Oktober, Badan Intelijen Nasional pemerintah Korea Selatan mempresentasikan berbagai bukti bahwa Korea Utara sudah memulai mempersiapkan pengerahan pasukan.
Beberapa hari kemudian, Menteri Defense Amerika Serikat Lloyd Austin juga mengungkapkan pada 23 Oktober bahwa ada bukti pasukan Korea Utara berada di area Rusia. Hari berikutnya, pada 24 Oktober, Uni Eropa mencela penempatan pasukan Korea Utara sebagai pelanggaran hukum internasional.
Dan tindakan permusuhan yang dimaksud akan memiliki konsekuensi serius. Pada hari yang dimaksud sama, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyatakan penolakannya terhadap tambahan kekuatan militer dalam Ukraina.
Keterlibatan Korea Utara pada pertempuran yang dimaksud semakin dalam. Korea Utara tidaklah hanya sekali menyediakan senjata terhadap Rusia. Pada awal Agustus, puluhan pejabat militer lalu perwira Korea Utara muncul pada medan peperangan di tempat Ukraina.
Mereka mengunjungi lokasi peluncuran misil KN-23 yang mana disediakan Korea Utara untuk Rusia. Selain itu, kemungkinan kemudian perasaan khawatir tentang penempatan pasukan telah terjadi muncul pada berbagai cara lantaran hubungan antara Korea Utara lalu Rusia semakin erat.
Juni lalu, Korea Utara dan juga Rusia mengadakan konferensi di tempat Pyongyang yang menciptakan perjanjian kemitraan strategis. Dalam pasal 4 perjanjian yang disebutkan memberikan dasar untuk dukungan militer pada menanggapi tindakan agresi bersenjata secara bersama.
Korea Utara mengungkapkan melalui media pemerintahnya bahwa Kim Jong-un telah dilakukan mengamati pelatihan pertempuran khusus pada bulan September. Diduga bahwa Kim Jong-un melakukan inspeksi ketika Korea Utara mulai bersiap secara penting untuk penempatan pasukan.






