Trump Kembali Tabuh Genderang Perang Dagang, Negara-negara BRICS Terancam

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam kemungkinan adanya pertempuran dagang pada waktu ia menegagskan kembali akan memberlakukan tarif 100% untuk aliansi BRICS pada waktu berbicara secara secara langsung pada Kamis (13/2).
Ancaman tarif yang disebutkan ditegaskan Trump pada waktu berbicara masalah implikasi dari upaya berkelanjutan aliansi BRICS untuk mendevaluasi mata uang juga menyelesaikan perdagangan pada mata uang lokal.
Ancaman yang disebutkan kembali ditegaskan Trump seperti pada waktu kampanye atau pemilihannya kembali tahun lalu. Negara-negara BRICS akan dikenakan pajak impor apabila merek terus mengupayakan perdagangan global untuk diselesaikan dalam luar greenback. Kini Trump menegaskan kembali konsekuensi-konsekuensi yang dimaksud akan terjadi.
Trump mengeluarkan peringatan serius baru tarif 100% untuk BRICS jikalau merek ingin bermain-main dengan dolar. Dia berbicara dengan tegas tentang pentingnya mempertahankan dolar Amerika Serikat sebagai mata uang dunia. Dia tiada ingin greenback kehilangan status cadangan globalnya akibat mirip dengan negara yang dimaksud kalah perang.
Dia berjanji untuk terus memacu perdagangan yang tersebut seimbang, memperkenalkan pajak untuk menjawab apa yang dimaksud disebutnya sebagai praktik perdagangan yang mana tidak ada adil.
“AS adalah salah satu negara dengan perekonomian paling terbuka dalam dunia. Namun mitra dagang kami tetap saja menghentikan pangsa merekan untuk ekspor kami. Kurangnya timbal balik ini tiada adil juga berkontribusi pada defisit perdagangan tahunan yang besar dan juga terus-menerus,” jelas Trump dilansir dari Watcher Guru, Hari Jumat (14/2/2025).
“Fair and Reciprocial Plan” telah terjadi ditandatangani Presiden Trump sebagai tindakan eksekutif pada hari Kamis (13/2). Untuk aliansi BRICS, mereka itu terus meyakinkan bahwa tidaklah ada mata uang asli pada pembangunan. Namun, dia berikrar akan terus mengempiskan ketergantungan pada dolar Negeri Paman Sam untuk memasarkan kesetaraan pada kegiatan ekonomi global.






