Duka Operasi Seroja, 129 Prajurit Terbaik Kopassus Gugur di dalam Timtim

JAKARTA – Operasi Seroja di tempat Timor Timur (Timtim) meninggalkan duka yang dimaksud mendalam bagi Komando Pasukan Khusus ( Kopassus ). Dalam operasi ini beratus-ratus prajurit terbaik Korps Baret Merah gugur.
Di antara prajurit terbaik itu adalah, Letkol Inf. Anumerta Atang Sutresna. Pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 22 Agustus 1943 ini gugur ditembak pasukan Fretilin sesaat pasca mengibarkan Bendera Merah Putih di area Kantor Gubernur Timor Portugis di area Dili, Timor Leste pada hari pertama Operasi Seroja digelar.
Selain itu, Kopda Anumerta Suparlan yang tersebut namanya saat ini diabadikan menjadi landasan udara pada Pusdilatpassus Kopassus, Batujajar, Bandung, Jawa Barat. Pratu Suparlan dikenang sebagai pahlawan akibat keberaniannya mengorbankan nyawanya untuk melindungi rekan-rekan seperjuangannya dalam Timor Timur.
Begitu juga dengan Letnan Satu (Lettu) Sudaryanto, Komandan Unit C Pasukan Nanggala 10, yang dimaksud gugur di pelukan Prabowo Subianto sekarang ini Presiden ke-8 RI di operasi di area Daerah Perkotaan Maubara, Timor Timur.
“Tercatat 129 prajurit Kopassus yang mana gugur pada Operasi Seroja dalam Timtim yang tersebut berlangsung sejak 1975-1999,” bunyi keterangan tercatat di tempat laman resmi penkopassus yang tersebut dikutipkan SindoNews, Awal Minggu (3/3/2025).

Pratu Suparlan, ketika bertugas dalam Timtim. Foto/istimewa
Operasi Seroja merupakan operasi militer terbesar TNI usai revolusi kemerdekaan. Dikutip dari buku biografi Letjen TNI (Purn) Sutiyoso berjudul “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando” diceritakan, Operasi Seroja yang dimaksud diselenggarakan pada 7 Desember 1975 ini berawal dari keprihatinan pemerintah Indonesia terhadap situasi urusan politik juga keamanan pada Timor Leste yang digunakan semakin genting menyusul hengkangnya Portugis dari wilayah yang dimaksud akibat Revolusi Bunga.
Sepeninggal Portugis, konflik bersenjata di dalam antara faksi-faksi yang dimaksud bertikai yakni Uniao Democratica de Timorense (UDT), kemudian Fretilin, kemudian Associacao Popular Democratica de Timor (Apodeti) menimbulkan ribuan pengungsi dari Timor Leste membanjiri area perbatasan pada Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meminta-minta proteksi untuk pemerintah Indonesia.






